Selasa, 13 April 2010

senyum itu memang milik yo

kisah ini aku tulis berdasarkan  surat seseorang yang sangat spesial, sebut saja yo, yang ditulis sekitar tahun 1992........

kira- kira empat tahun sebelumnya, dia (maksudnya yo) lulus smp dan mau mencari sma. suatu hari dia diajak oleh temannya, yang juga temanku saat sekolah di taman kanak-kanak, main ke rumahku. dia dikenalkan dengan seorang gadis cakep (maksudnya itu aku, hehehe...) rambut panjang sedikit bergelombang, mata tajam berkilat serasi dengan wajah yang oval. (dia yang menulis begitu!he.....???)

lalu dia ulurkan tangan, tentu saja aku menyambut seraya sebutkan namaku. nama yang bagi sementara orang mengingatkan pada bekas istri seorang penyanyi terkenal. singkat dan mudah diingat tapi sukar dilafalkan oleh orang tertentu. caraku bicara dan bersikap menunjukkan kalau aku seorang yang supel dan ramah (ini juga katanya....)


tapi sungguh sayang, sepertinya waktu berjalan amat cepat hingga dia dan temannya, temanku juga, mesti pamit untuk pulang. katanya sih dia kecewa juga, soalnya belum cukup rasanya tapi harus berpisah denganku..(masa?...mesti percaya ga yaa....). yach....lain waktu dia pasti bisa ketemu aku lagi. begitu pikirnya saat itu.

apa hendak dikata, Tuhan menghendaki lain. seiring dengan berjalannya sang waktu, keadaan dan situasipun berubah. dia sempat melupakanku (kalau ini aku percaya, he..), sibuk di sekolahnya yang baru, salah satu sma negeri di kota solo. sedangkan aku, dia juga mendengar kalau aku masuk di sma swasta yang cukup terkenal di kota yang sama...hmm, boleh bangga kan...

tapi walau demikian kesan yang dia dapat tentang aku begitu dalam (he hem..), jadi tidak mungkin dia melupakan diriku seluruhnya. baru dua tahun kemudian dia ketemu aku untuk yang kedua kalinya. katanya kalau dia ingat lucu juga. soalnya dia bisa ketemu aku lagi lantaran kakakku yang menjadi kakak kelasnya. dia masih ingat waktu itu kebetulan dia habis mengantar kakakku pulang dari latihan nyanyi, persiapan acara Natal bersama di sma dia. makanya dia sempatkan diri buat mengucapkan selamat Natal ke aku.

nah, berawal dari pertemuan itu dia mencoba untuk akrab dengaku,  mulai berani dolan ke rumahku. dolan.....dolan.....dolan....karena seringnya ketemu, tentu saja kami jadi tambah akrab. dia mulai tahu dan kenal lebih jauh tentang pribadiku. terus terang dia  mulai suka sama aku, meskipun belum dia utarakan langsung.........takut!!

akhirnya.....
dia beranikan diri juga mengutarakan isi hatinya meski yah, hanya lewat surat. lepas dari akunya mau atau tidak, yang jelas dia takut kehilangan keakraban yang pernah ada dan dia takut kehilangan aku. sepertinya terlalu mengada-ada, tapi memang itulah kenyataan yang dia hadapi. dan dia juga tidak bisa menjanjikan apakah nantinya  bakal bisa jadi pembimbing yang baik, khususnya studi atau jadi pelindung, di saat aku membutuhkannya. takut kalau malah membuat aku kecewa. percuma kan banyak bicara tapi hasilnya lain!

eh, jadi ingat, dia kencan pertama kali denganku waktu acara natal bersama di wisma mahasiswa. waktu itu acara selesai sampai malam kurang lebih jam setengah sebelas, dia baru antar aku pulang. aduh rasanya bahagia banget hatinya saat itu.

memang kami kenal belum lama, tapi yang singkat itu justru meninggalkan kesan yang dalam bagi dia dan mungkin juga buat aku. dan rasa suka itu pun mulai tumbuh tanpa bisa dicegah. segala macam perasaan, sayang, kangen mulai ada tanpa disadari. dia ingin menjadikanku teman yang bisa diajak berbagi suka dan duka, bertukar pendapat dan yang bisa beri dorongan semangat di saat dia butuhkan itu.

dari situlah dia makin kenal pribadiku lebih dalam. aku yang ramah, mudah bergaul, kadang tampak begitu penyabar juga penuh perhatian.( hehe... jadi tersanjung, kayaknya cuma sama dia ya aku begitu....?!). mungkin dari situ juga dia mulai yakin kalau aku juga menyimpan rasa yang sama.di antara pribadiku yang membuatnya suka adalah ketegaran hatiku, hhmm.. dan kemandirianku...(ee...itu dulu yaa). mungkin dikarenakan lingkungan yang membentukku demikian. sering berani dalam mengambil sikap, tanpa peduli akan resiko yang mungkin terjadi akibat dari sikapku itu. sikap dan pribadi inilah yang membuat dia sayang aku. tak jarang karena rasa sayang itu, dia sempatkan diri untuk menjemputku sepulang dari sekolah, atau menemani menghadiri pesta ulang tahun teman-temanku, sekedar ujud perhatiannya padaku..

kebetulan sekali kami sama-sama suka urusan alam. suatu hari dia menawariku untuk sama-sama ikut pendakian gunung massal. akhirnya aku diijinkan ortu ikut serta, dan tentu saja dengan harapan dia bisa menjagaku. tapi harapan ini pulalah yang kemudian membawa kami pada keadaan yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya. jadwal kegiatan yang telah dia siapkan sejak paginya, sama sekali berantakan. dia tidak bisa datang tepat waktu pada saat itu. tapi kemudian tanpa pikir panjang dia langsung memutuskan untuk menyusul rombonganku.

saat kami pertama kali bertatap muka, rasanya aneh. katanya aku kelihatan sudah telanjur kecewa. sebaliknya dia waktu itu tidak merasa perlu menjelaskan semua padaku. keadaan yang serba tidak enak itu berlanjut sampai kami pulang. dan cerita selanjutnya tidak seindah cerpen-cerpen remaja pada umumnya.
tiba-tiba saja hubungan dia denganku tidak seakrab dulu lagi. senyumku saat sambut dia di pintu masuk rumahku sudah tidak ada lagi. candaku saat bersua sudah tidak lagi  muncul. yang dia rasakan saat itu, aku telah membuat jarak yang jauh darinya.

dia sudah banyak mengecewakanku. itu mungkin yang menjadikan noda kepercayaanku ke dia. sebenarnya dia tidak bermaksud mengecewakanku, tapi kenyataannya........lain sekali! dan dia tahu, sulit untuk menghilangkannya. yang ada di benaknya, sampai kapan akan begini, dikuasai oleh ego masing-masing, haruskah saling siksa. dan sepertinya tidak mudah untuk menjawabnya.

setengah tahun berlalu, tanpa kehadirannya. kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. dia sibuk dengan urusannya sendiri, aku juga dengan urusanku. masih banyak yang harus dia pelajari untuk persiapan menghadapi ujian, masih banyak yang dia hadapi dalam hidup ini.
akhirnya dia harus menerima kenyataan, gagal di umptn! dia juga mendengar kalu aku  sama seperti dia, senasib istilahnya.

tanpa rencana sebelumnya, dia putuskan untuk mendaftar ke salah satu lembaga pendidikan komputer. kebetualan dia suka bidang itu. cukup jauh juga jaraknya dari rumahnya. tapi dia tidak ambil pusing, jalani saja,  karena dia tahu aku ada di lembaga pendidikan yang sama. dia bisa sering lihat aku meski tidak saling sapa. dan.......singkatnya karena acara natal bersama lagi,  kami mulai kembali keakraban yang pernah hilang itu. aku tidak bisa lagi menolak kehadirannya di setiap akhir pekan. bahkan kami semakin akrab.

pintu masih terbuka untuk dia, apa yang dia harapkan selama ini telah terwujud. ternyata aku masih seperti aku yang dia kenal dulu. kami lebih dekat dari yang sebelumya. meski ada yang berubah pada diriku (salah satunya rambutku tidak sepanjang dulu, karna korban mode atau ...patah hati yaa), tapi ternyata senyumku  masih tetap milik yo!!!


****

0 komentar:

Posting Komentar